Beranda » Nasional » Standar Nilai Profiling ASN 2026, Cek Level Kompetensi dan Cara Bacanya di Sini

Standar Nilai Profiling ASN 2026, Cek Level Kompetensi dan Cara Bacanya di Sini

Hasil tes keluar, tapi bingung angka-angka di layar artinya apa? Apakah nilai 65 sudah cukup bagus atau justru termasuk rendah? Pertanyaan seperti ini sering muncul setiap kali ASN selesai mengikuti asesmen kompetensi.

Profiling ASN merupakan sistem pemetaan kompetensi yang digunakan BKN dan instansi untuk menilai kapasitas aparatur sipil negara. Hasil profiling menjadi acuan untuk pengembangan karier, penempatan jabatan, hingga program pelatihan yang dibutuhkan. Sejak implementasi sistem merit penuh pada 2024, standar nilai profiling semakin ketat dan menjadi penentu utama dalam seleksi JPT, promosi, dan mutasi.

Nah, artikel ini akan membahas tuntas standar nilai profiling ASN 2026, cara membaca hasil asesmen kompetensi, kategori dari rendah hingga sangat tinggi, serta tips interpretasi untuk pengembangan diri.

Apa Itu Profiling ASN dan Mengapa Penting?

Profiling ASN adalah proses asesmen komprehensif untuk memetakan kompetensi teknis, manajerial, dan sosial kultural setiap . Berbeda dengan tes yang fokus pada kemampuan dasar, profiling menggali lebih dalam tentang potensi kepemimpinan, integritas, kemampuan analisis, dan kesesuaian dengan jabatan tertentu.

Sistem ini diatur dalam Peraturan BKN tentang Asesmen Kompetensi ASN dan menjadi bagian dari ekosistem manajemen talenta nasional. Setiap ASN wajib mengikuti profiling minimal sekali dalam 3 tahun atau setiap kali akan mengikuti seleksi jabatan. Data hasil profiling tersimpan di sistem SIASN (Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara) dan bisa diakses oleh pejabat pembina kepegawaian untuk berbagai keperluan.

Berdasarkan Perpres tentang Sistem Merit ASN, hasil profiling menjadi salah satu dari 5 pilar penilaian kinerja pegawai—bersama dengan SKP, penilaian perilaku, rekam jejak, dan prestasi kerja. Artinya, nilai profiling yang rendah bisa menghambat karier meski kinerja teknis baik.

Komponen yang Diukur dalam Profiling ASN 2026

Profiling ASN 2026 menggunakan pendekatan multi-dimensi yang mencakup beberapa aspek kompetensi:

Kompetensi Teknis: Mengukur penguasaan bidang tugas dan fungsi jabatan. Untuk tenaga kesehatan dinilai pengetahuan medis dan protokol klinis, untuk auditor dinilai pemahaman audit dan akuntansi, untuk dinilai pedagogik dan keilmuan. Bobot kompetensi teknis sekitar 30-40% dari total penilaian.

Kompetensi Manajerial: Menilai kemampuan perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, delegasi, dan pengambilan keputusan. Ini mencakup 8 kompetensi inti seperti integritas, kerjasama, komunikasi, orientasi pada hasil, pelayanan publik, pengembangan diri, mengelola perubahan, dan pengambilan keputusan. Bobot sekitar 40-50% karena penting untuk semua level jabatan.

Kompetensi Sosial Kultural: Mengukur Pancasila dan nilai-nilai dasar ASN, sensitivitas budaya, kemampuan beradaptasi dengan keberagaman, serta etika pelayanan publik. Sejak 2024, aspek ini diperkuat dengan asesmen anti-korupsi dan netralitas ASN. Bobotnya 10-15%.

Potensi Kepemimpinan: Khusus untuk kandidat JPT atau posisi strategis, ada tambahan asesmen potensi kepemimpinan yang mengukur visi strategis, kemampuan mempengaruhi, pengembangan orang lain, dan keberanian mengambil risiko. Bobotnya bervariasi tergantung jenis jabatan yang dilamar.

Setiap komponen dipecah lagi menjadi sub-indikator dengan skala penilaian terstandar yang menghasilkan skor numerik dan kategori kualitatif.

Standar Nilai dan Kategori Level Kompetensi ASN 2026

Hasil profiling ASN disajikan dalam bentuk skor dengan rentang 0-100 untuk setiap kompetensi. Berikut standar kategorisasi berdasarkan Pedoman BKN tentang Asesmen Kompetensi ASN dan dapat berubah sesuai kebijakan terbaru:

Kategori Level Rentang Skor Interpretasi Implikasi Karier
Sangat Rendah 0 – 40 Kompetensi jauh di bawah standar minimal jabatan Wajib ikut pelatihan pengembangan intensif
Rendah 41 – 55 Kompetensi di bawah standar, butuh pengembangan Tidak direkomendasikan untuk promosi
Sedang 56 – 70 Kompetensi memenuhi standar minimal jabatan Memenuhi untuk jabatan setara
Tinggi 71 – 85 Kompetensi di atas standar, siap untuk tantangan lebih Direkomendasikan untuk promosi atau rotasi
Sangat Tinggi 86 – 100 Kompetensi unggul, masuk talent pool strategis Prioritas untuk JPT atau posisi kunci

Penting dipahami bahwa kategori ini bersifat relatif terhadap standar jabatan. Nilai 70 untuk jabatan fungsional pemula bisa termasuk tinggi, tapi untuk kandidat JPT Madya nilai yang sama termasuk sedang atau bahkan kurang memenuhi syarat.

Cara Membaca Hasil Profiling ASN di Aplikasi SIASN

Setelah mengikuti tes profiling, hasil bisa diakses melalui portal SIASN dengan langkah berikut:

Baca Juga:  Kapan Gaji ke-13 ASN 2026 Cair dan Siapa Saja Non ASN yang Berhak Menerimanya?

Akses Dashboard Kepegawaian:

  1. Login ke laman siasn.bkn.go.id menggunakan NIK dan password yang sudah terdaftar
  2. Pilih menu “Pengembangan Kompetensi” di sidebar kiri halaman utama
  3. Klik sub-menu “Hasil Asesmen” untuk melihat seluruh riwayat profiling yang pernah diikuti
  4. Pilih hasil asesmen terakhir atau sesuai periode yang ingin dilihat
  5. Sistem akan menampilkan dashboard visual berupa grafik radar atau bar chart untuk setiap kompetensi

Interpretasi Grafik Kompetensi:

Dashboard biasanya menampilkan grafik radar (spider chart) dengan beberapa sumbu yang mewakili kompetensi berbeda. Semakin keluar titik plot, semakin tinggi nilai kompetensi tersebut. Grafik ideal berbentuk simetris dan mendekati lingkaran luar—artinya semua kompetensi seimbang dan tinggi.

Jika ada sumbu yang sangat pendek (menjorok ke dalam), itu menandakan gap kompetensi yang perlu segera ditingkatkan. Misalnya, nilai komunikasi 85 tapi pengambilan keputusan hanya 50—ini menunjukkan kelemahan signifikan yang bisa menghambat efektivitas di jabatan manajerial.

Detail Skor per Indikator:

Scroll ke bawah untuk melihat breakdown detail setiap kompetensi. Di sini akan terlihat skor numerik (0-100), kategori (sangat rendah hingga sangat tinggi), dan deskripsi kualitatif tentang kekuatan dan area pengembangan.

Contoh: “Integritas (Skor: 78, Kategori: Tinggi) – Menunjukkan konsistensi antara nilai dan tindakan, namun perlu penguatan pada keberanian melaporkan pelanggaran.”

Rekomendasi Pengembangan:

Bagian paling penting adalah rekomendasi di akhir laporan. Sistem akan menyarankan jenis pelatihan, coaching, atau penugasan khusus yang sesuai dengan gap kompetensi. Misalnya: “Direkomendasikan mengikuti Diklat Kepemimpinan Tingkat III untuk memperkuat kompetensi manajerial.”

Hasil ini bisa di-download dalam format PDF untuk keperluan administrasi atau lampiran pengajuan promosi.

Perbedaan Standar Profiling untuk Berbagai Level Jabatan

Standar nilai profiling tidak seragam untuk semua ASN. Ada diferensiasi berdasarkan eselon atau jenjang jabatan:

Jabatan Pelaksana (Non-Struktural): Standar minimal rata-rata kompetensi 60. Fokus utama pada kompetensi teknis dan pelayanan publik. Kompetensi manajerial tidak terlalu dominan karena jobdesk lebih ke eksekusi rutin.

Jabatan Fungsional Ahli Pertama/Terampil: Standar minimal 65 dengan penekanan pada kompetensi teknis yang sangat spesifik. Untuk auditor, analis, atau peneliti, nilai kompetensi teknis minimal harus 70 meski kompetensi lain bisa di 60-65.

Jabatan Administrator/Eselon III: Standar minimal 70 dengan kompetensi manajerial minimal 75. Di level ini, kemampuan koordinasi dan mengelola tim menjadi krusial. ASN dengan nilai di bawah 70 jarang lolos seleksi jabatan administrator.

JPT Pratama/Eselon II: Standar minimal 75 dengan tidak boleh ada kompetensi di bawah 70. Potensi kepemimpinan minimal harus kategori tinggi (71-85). Persaingan ketat karena kuota terbatas dan kandidat biasanya sudah terseleksi ketat.

JPT Madya dan Utama: Standar minimal 80-85 dengan profil kompetensi sangat seimbang. Semua aspek harus kategori tinggi atau sangat tinggi. Biasanya hanya 5-10% ASN yang bisa mencapai level ini secara konsisten.

Jadi, jangan berkecil hati jika nilai profiling hanya 65—untuk jabatan pelaksana atau fungsional pemula, ini sudah cukup memadai. Yang penting fokus pada peningkatan bertahap sesuai jenjang karier.

Faktor yang Memengaruhi Hasil Profiling ASN

Nilai profiling tidak muncul dari kekosongan. Ada beberapa faktor yang signifikan memengaruhi hasil:

Pengalaman Kerja dan Penugasan: ASN yang sering mendapat penugasan bervariasi—seperti menjadi tim proyek, koordinator program, atau pernah rotasi ke unit berbeda—cenderung punya nilai kompetensi manajerial dan sosial kultural lebih tinggi. Pengalaman lapangan membentuk kemampuan adaptasi dan problem solving yang terukur dalam asesmen.

Riwayat Pelatihan dan Pendidikan: Mereka yang rajin mengikuti diklat, bimtek, atau melanjutkan pendidikan S2/S3 biasanya memiliki kompetensi teknis dan pengembangan diri lebih tinggi. Sistem bahkan bisa menarik data dari e-learning ASN untuk melihat konsistensi belajar mandiri.

Track Record Kinerja: Nilai SKP 3 tahun terakhir berkorelasi dengan hasil profiling. ASN dengan SKP konsisten di atas 90 cenderung mendapat nilai kompetensi orientasi pada hasil dan pelayanan publik lebih baik. Sebaliknya, yang sering mendapat teguran atau nilai SKP rendah akan terdeteksi lewat asesmen integritas dan disiplin.

Jabatan Saat Ini: ASN yang sudah menduduki jabatan struktural atau fungsional ahli utama biasanya sudah melewati berbagai asesmen sebelumnya, sehingga nilai profiling mereka lebih stabil dan tinggi. Sementara yang baru pertama kali ikut profiling atau masih di jabatan pelaksana sering mendapat nilai lebih rendah karena kurang exposure.

Kondisi Psikologis Saat Tes: Faktor psikometri seperti kecemasan, kelelahan, atau kurang persiapan bisa menurunkan performa 10-15 poin. Ini mengapa penting untuk datang dalam kondisi fit dan sudah latihan soal-soal simulasi.

Tips Meningkatkan Nilai Profiling untuk Asesmen Berikutnya

Hasil profiling bukan vonis final. Ada strategi konkret untuk meningkatkan nilai di asesmen periode berikutnya:

Baca Juga:  Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Menurut BI dan IMF Terbaru

Identifikasi Gap Spesifik: Jangan hanya lihat nilai total, tapi breakdown per indikator. Jika nilai komunikasi rendah, fokus ke sub-indikator mana yang lemah—komunikasi lisan, tertulis, atau presentasi. Perbaikan targetted lebih efektif daripada belajar semua hal sekaligus.

Ambil Pelatihan yang Relevan: Ikuti diklat atau kursus yang secara eksplisit menyasar kompetensi lemah. Untuk memperkuat kompetensi manajerial, ikut Diklat PIM atau leadership program. Untuk kompetensi teknis, ambil sertifikasi profesi atau bimtek substansi. Pastikan pelatihan tercatat di SIASN karena assessor bisa melihatnya.

Cari Penugasan Menantang: Volunteer untuk tim proyek lintas unit, menjadi notulen rapat strategis, atau memimpin kegiatan kecil di kantor. Pengalaman praktis lebih membentuk kompetensi dibanding sekadar teori. Dokumentasikan semua penugasan ini untuk bahan refleksi saat asesmen.

Latihan Soal dan Simulasi: Banyak platform e-learning ASN yang menyediakan simulasi tes profiling. Biasakan dengan format soal situational judgment test, studi kasus, dan asesmen kepribadian. Semakin sering latihan, semakin terbiasa dengan pola soal dan cara menjawab yang efektif.

Minta Feedback dari Atasan: Konsultasi dengan pimpinan langsung tentang area pengembangan yang perlu diprioritaskan. Atasan bisa memberikan perspektif objektif tentang kekuatan dan kelemahan yang mungkin tidak disadari. Feedback ini bisa dijadikan dasar Individual Development Plan (IDP).

Jaga Konsistensi Kinerja: Nilai SKP dan penilaian perilaku yang baik konsisten selama 2-3 tahun akan berpengaruh positif pada profiling berikutnya. Hindari pelanggaran disiplin sekecil apapun karena akan terekam dan memengaruhi skor integritas.

Mitos dan Fakta Seputar Profiling ASN

Banyak kesalahpahaman yang beredar soal profiling ASN. Berikut klarifikasinya:

Mitos: “Nilai profiling bisa dimanipulasi dengan jawaban tertentu” Fakta: Sistem asesmen modern menggunakan algoritma deteksi pola inkonsistensi. Jika ada jawaban yang terlalu “sempurna” atau bertentangan dengan track record kinerja, sistem akan tandai sebagai red flag dan nilai bisa didiskualifikasi. Berdasarkan Pedoman Asesmen BKN, kejujuran dalam menjawab justru lebih dihargai daripada mencoba terlihat sempurna.

Mitos: “Sekali dapat nilai rendah, karier akan mandek selamanya” Fakta: Profiling bisa diulang setiap periode asesmen. ASN yang rajin mengikuti pengembangan diri bisa meningkatkan nilai signifikan dalam 1-2 tahun. Ada banyak kasus ASN yang dari nilai 60 naik ke 80 setelah mengikuti program talent development secara disiplin.

Mitos: “Nilai profiling sama dengan nilai tes CPNS dulu” Fakta: Tes CPNS mengukur kemampuan dasar kognitif dan pengetahuan umum. Profiling mengukur kompetensi perilaku, manajerial, dan potensi kepemimpinan yang jauh lebih kompleks. Bisa saja nilai CPNS tinggi tapi profiling rendah karena kurang pengalaman praktis.

Mitos: “Hanya yang mau naik jabatan perlu peduli dengan profiling” Fakta: Hasil profiling juga menentukan akses ke pelatihan strategis, beasiswa tugas belajar, dan berbagai program pengembangan. ASN dengan nilai tinggi lebih prioritas mendapat kesempatan pengembangan meski tidak sedang mengikuti seleksi jabatan.

Hubungan Nilai Profiling dengan Promosi dan Mutasi

Nilai profiling punya bobot besar dalam proses pengisian jabatan. Berikut mekanismenya:

Sistem Scoring Terintegrasi: Saat ada lowongan jabatan, panitia seleksi akan menilai kandidat berdasarkan formula yang mencakup nilai profiling (30-40%), track record kinerja (30%), pendidikan dan pelatihan (15-20%), dan hasil wawancara (15-20%). Kandidat dengan nilai profiling di bawah standar minimal langsung tereliminasi meski aspek lain bagus.

Talent Pool Strategis: ASN dengan nilai profiling kategori tinggi dan sangat tinggi secara otomatis masuk database talent pool nasional. Mereka akan diprioritaskan saat ada kebutuhan pengisian JPT atau posisi strategis di kementerian/lembaga. Ini mirip sistem recruitment internal di korporat.

Rekomendasi Mutasi: Untuk mutasi horizontal (pindah unit kerja tapi level sama), hasil profiling digunakan untuk matching antara kompetensi individu dengan kebutuhan unit tujuan. Misalnya, unit yang butuh orang kuat di bidang IT akan prioritaskan ASN dengan nilai kompetensi teknis IT tinggi.

Blocking Mechanism: ASN dengan nilai profiling sangat rendah di kompetensi integritas atau pelayanan publik bisa di-block dari akses ke jabatan tertentu—terutama yang berhubungan dengan uang negara atau pelayanan langsung ke masyarakat. Ini bagian dari mekanisme safeguarding untuk mencegah korupsi dan mal-administrasi.

Cara Mengajukan Keberatan Jika Hasil Dirasa Tidak Akurat

Jika merasa hasil profiling tidak mencerminkan kompetensi sebenarnya, ada mekanisme komplain:

Dasar: Langkah pertama, apakah data yang digunakan sistem sudah benar—riwayat jabatan, pendidikan, pelatihan di SIASN. Kadang ada error data yang menyebabkan scoring tidak akurat. Jika ada kesalahan, ajukan perbaikan data ke admin kepegawaian instansi.

Pengajuan Re-Test: ASN bisa mengajukan permohonan asesmen ulang jika ada bukti kuat bahwa kondisi saat tes tidak optimal—misalnya sedang sakit, ada gangguan teknis, atau force majeure lain. Ajukan ke BPK instansi dengan melampirkan surat keterangan medis atau bukti pendukung lain.

Baca Juga:  Cara Membuat Paspor Elektronik E-Paspor 2026, Kelebihan Syarat dan Biaya Terbaru

Komplain ke Asesor: Jika merasa proses asesmen tidak sesuai prosedur—misalnya waktu tes terlalu singkat, soal tidak sesuai kisi-kisi, atau ada intimidasi—bisa mengajukan komplain tertulis ke lembaga asesor yang menyelenggarakan. Sebutkan secara spesifik bagian mana yang bermasalah.

Eskalasi ke BKN: Untuk kasus yang tidak terselesaikan di tingkat instansi, bisa eskalasi ke BKN melalui pengaduan resmi di portal atau datang langsung ke Kantor Regional BKN. BKN akan melakukan review independen dan bisa memerintahkan asesmen ulang jika terbukti ada prosedural error.

Catatan Penting: Keberatan hanya bisa diajukan maksimal 14 hari setelah hasil diumumkan. Lewat dari itu, hasil dianggap final dan tidak bisa diganggu gugat kecuali ada penemuan fraud atau pelanggaran serius.

Kontak Layanan dan Pengaduan Profiling ASN

Jika butuh klarifikasi atau mengalami kendala terkait profiling, hubungi:

BKN Pusat:

  • Website: bkn.go.id
  • Call Center: 1500-272
  • Email: [email protected]
  • WhatsApp: 0811-1011-672

SIASN Helpdesk:

  • Portal: siasn.bkn.go.id (menu “Bantuan”)
  • Email: [email protected]
  • Live chat: Tersedia di portal SIASN (jam kerja)

Kantor Regional BKN: Setiap provinsi punya Kanreg BKN. Untuk konsultasi langsung atau pengaduan yang butuh penanganan tatap muka, bisa datang ke Kanreg terdekat dengan membawa dokumen pendukung.

Lembaga Asesor Terakreditasi: Jika profiling dilakukan oleh asesor eksternal (seperti LAN, lembaga konsultan, atau kampus), hubungi langsung lembaga tersebut untuk klarifikasi metodologi dan scoring.

BKD/BKPSDM Daerah: Untuk ASN pemerintah daerah, hubungi Badan Kepegawaian Daerah setempat sebagai first line support sebelum eskalasi ke BKN.

Waktu operasional layanan pengaduan umumnya Senin-Jumat pukul 08.00-16.00 WIB. Untuk pengaduan urgent terkait seleksi jabatan yang sedang berjalan, bisa melalui WhatsApp atau email untuk respons lebih cepat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan Seputar Profiling ASN

Apakah hasil profiling berlaku selamanya atau ada masa kadaluarsa?

Hasil profiling berlaku maksimal 3 tahun sejak tanggal pelaksanaan asesmen. Setelah itu, ASN wajib mengikuti profiling ulang jika ingin ikut seleksi jabatan atau program pengembangan tertentu. Namun, untuk keperluan administratif umum, data profiling tetap tersimpan di SIASN sebagai track record. Beberapa instansi bahkan mewajibkan refresh profiling setiap 2 tahun untuk memastikan data kompetensi selalu update.

Bagaimana jika nilai profiling tinggi tapi tidak pernah dipanggil untuk promosi?

Nilai profiling tinggi memang meningkatkan peluang, tapi bukan jaminan otomatis promosi. Ada faktor lain seperti ketersediaan formasi, senioritas, kebijakan afirmasi, dan networking internal yang juga berperan. Jika merasa tidak mendapat kesempatan meski nilai bagus, bisa konsultasi dengan unit kepegawaian atau atasan langsung untuk mengetahui roadmap karier dan persiapan tambahan yang dibutuhkan. Kadang perlu proaktif apply saat ada lowongan, tidak hanya menunggu ditunjuk.

Apakah asesor bisa melihat data pribadi seperti catatan pelanggaran disiplin saat melakukan profiling?

Asesor yang melakukan profiling biasanya hanya punya akses terbatas ke data kepegawaian—fokus pada riwayat jabatan, pendidikan, dan pelatihan. Data sensitif seperti catatan pelanggaran disiplin atau hukuman administratif tidak langsung terlihat oleh asesor eksternal. Namun, untuk seleksi JPT atau jabatan strategis, panitia seleksi yang ditunjuk oleh instansi punya akses penuh ke track record termasuk catatan negatif. Jadi, kejujuran tetap penting karena verifikasi silang pasti dilakukan.

Bisakah ASN dari instansi berbeda dibandingkan nilai profilingnya secara langsung?

Secara teknis tidak apple-to-apple karena setiap instansi bisa punya standar kompetensi teknis yang berbeda. Nilai 75 untuk auditor di Kemenkeu belum tentu setara dengan 75 untuk guru di Kemendikbud karena indikator teknisnya berbeda. Yang bisa dibandingkan adalah kompetensi manajerial dan sosial kultural yang relatif universal. BKN sedang mengembangkan sistem benchmarking nasional agar ada standar lebih seragam, tapi per 2026 masih dalam tahap pilot di beberapa K/L.

Apakah ikut pelatihan online gratis dari platform e-learning bisa meningkatkan nilai profiling?

Ya, tapi dengan catatan. Pelatihan harus tercatat resmi di SIASN dan mendapat sertifikat yang diakui. Ikut kursus random di Youtube atau platform komersial tidak akan terdeteksi sistem. Fokus pada pelatihan yang disediakan oleh LAN, BKN, LKPP, atau platform resmi ASN lainnya. Selain itu, pelatihan harus relevan dengan gap kompetensi—tidak ada gunanya ikut ratusan pelatihan random tanpa fokus pada area yang memang perlu ditingkatkan.


Kesimpulan

Memahami standar nilai profiling ASN 2026 bukan sekadar untuk lulus seleksi jabatan, tapi lebih kepada pemetaan diri untuk pengembangan karier jangka panjang. Nilai tinggi memang membuka lebih banyak peluang, tapi yang terpenting adalah konsistensi dalam meningkatkan kompetensi sesuai dengan jenjang dan tantangan pekerjaan. Jangan berkecil hati jika hasil profiling belum memuaskan—jadikan sebagai cermin untuk identifikasi area pengembangan dan susun rencana konkret untuk perbaikan di asesmen berikutnya. Semoga panduan ini membantu para ASN lebih memahami sistem profiling dan memanfaatkannya untuk kemajuan karier. Tetap semangat melayani negara dengan integritas dan kompetensi terbaik!


Sumber dan Referensi : Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan Peraturan BKN tentang Asesmen Kompetensi ASN, Perpres tentang Sistem Merit ASN, Pedoman Pengembangan Kompetensi dari LAN, serta data dari portal SIASN (siasn.bkn.go.id). Standar nilai dan kategori kompetensi dapat mengalami penyesuaian sesuai kebijakan terbaru dari BKN atau masing-masing instansi pemerintah. Untuk informasi paling akurat dan update, ASN disarankan mengecek langsung melalui portal SIASN atau menghubungi unit kepegawaian di instansi masing-masing.